Minggu, 31 Desember 2017

WASWAS TENTANG BATALNYA WUDHU’

Dalam rubik fiqh kali ini kami menghadirkan tentang tentang was-was yang dihembuskan syaithan kepada Bani Adam saat shalat sehingga beranggapan batallah wudhunya. Pembaca yang dirahmati Allah dalam Shahiih Muslim, terdapat sebuah riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ: أَخْرَجَ مِنْهُ شَيْئٌ أَمْ لاَ؟ فَلاَ يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا!

“Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan sesuatu dalam perutnya, maka membuatnya ragu, apakah ada yang keluar (angin) darinya atau tidak? Maka janganlah keluar dari masjid hingga mendengar suara atau mendapatkan bau!”

Dan juga terdapat dalam ash-Shahiihain dari ‘Abdillah bin Zaid, dia berkata, diadukan kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, tentang seseorang yang diberikan gambaran kepadanya, bahwa dirinya mendapatkan sesuatu dalam shalatnya, beliau bersabda,

لاَ يَنْصَرِفُ، حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا!

“Janganlah dia berpaling dari shalatnya hingga mendengar suara (angin) atau mendapatkan baunya!”

Dalam Musnad dan Sunan Abi Dawud, dari Abu Sa‘id al-Khudri, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْتِيْ أَحَدَكُمْ وَهُوَ فِي صَلاَتِهِ فَيَأْخُذُ شَعَرَةً مِنْ دُبُرِهِ فَيَمُدُّهَا، فَيَرَى أَنَّهُ قَدْ أَحْدَثَ، فَلاَ يَنْصَرِفَنَّ حَـتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا!

“Sesungguhnya syaitan akan mendatangi salah seorang dari kalian dalam shalatnya, kemudian dia akan memegangi sehelai rambut yang ada di duburnya kemudian dia akan ulurkan, sehingga orang itu mengira bahwa dirinya telah ber-hadats, maka janganlah dia meninggalkan (shalatnya) sampai mendengar suara atau mencium bau!”
Sedangkan dalam lafazh Abu Dawud,

إِذَا أَتَى الشَّيْطَانُ أَحَدَكُـمْ فَقَالَ لَهُ: إِنَّكَ قَدْ أَحْدَثَ، فَلْيَقُلْ لَهُ: كَذَبْتَ. إِلاَّ مَنْ وَجَدَ رِيْحًا بِأَنْفِهِ أَوْ سَمِعَ صَوْتًا بِأُذُنِهِ.

“Bila syaitan mendatangi salah seorang dari kalian dan berkata kepadanya, ‘Kamu telah berhadats,’ hendaklah dia katakan kepadanya, ‘Kamu dusta,’ kecuali seorang yang mencium bau dengan hidungnya atau mendengar suara dengan telinganya.”

Maka jika kita melihat hadits di atas Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk mendustakan syaitan, meskipun pada sesuatu yang dimungkinkan kebenarannya, lalu bagaimana jika kedustaannya tersebut adalah sesuatu yang sudah maklum dan yakin, seperti perkataannya kepada orang yang waswas, “Kamu belum melakukan ini,” padahal dia benar-benar telah melakukannya?

Syaikh Abu Muhammad memberikan sebuah antisipasi manakala seseorang itu mendapatkan sebuah kasus sebagaimana kasus di atas, beliau mengatakan ;
Disukai dari seseorang untuk memercikkan air pada kemaluannya dan juga celananya apabila buang air kecil, untuk menepis waswas dari dirinya, apabila dia mendapatkan sesuatu yang basah, maka hendaknya dia katakan, bahwa itu adalah air yang tadi dia percikkan, berdasarkan riwayat Abu Dawud dengan sanadnya dari Sufyan bin al-Hakam ats-Tsaqafi, atau al-Hakam bin Sufyan, dia berkata, “Adalah Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bila buang air kecil, beliau berwudhu’ dan memercikkan air.” 

Dalam riwayat lain disebutkan, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam buang air kecil, kemudian memerciki kemaluannya.” Dan adalah Ibnu ‘Umar memercikkan air pada kemaluannya sehingga membasahi celananya.

Dan sebagaimana yang telah datang juga dalam sebuah atsar bahwa sahabat Imam Ahmad mengadu kepadanya, bahwa dirinya mendapatkan sesuatu yang basah setelah berwudhu’, maka Imam Ahmad memeritahkannya untuk memercikkan air bila buang air kecil, dan dia mengatakan “Janganlah hal itu menjadi perhatianmu, abaikanlah!”

Al-Hasan ditanya atau orang lain dalam perkara sejenis ini, maka dia mengatakan, “Abaikanlah!” kemudian masalah yang sama diulangi disampaikan kepadanya, maka dia berkata, “Apakah engkau banyak mengalirkannya? Celaka engkau. Abaikanlah!”

Demikianlah sebuah artikel singkat yang kami ambil dari Kitab Kaifa Tatakhallashu Minal Waswasati wa Makaayidisy Syaithaan karya Ahmad bin Salim Ba Duwailan dengan sedikit perubahan yang tidak mengurangi makna dari penulis. Semoga bermanfaat... Wallahu a'lam bish-shawwab

BERKATA BAIK ATAU DIAM

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

Ketahuilah, sepantasnya bagi setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas mashlahat padanya.

Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama mashlahat-nya, maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya.

Karena perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram atau makruh. Bahkan, ini banyak atau dominan pada kebiasaan. Sedangkan keselamatan itu tiada bandingannya.

Telah diriwayatkan kepada kami di dalam dua Shahih, Al-Bukhari (no. 6475) dan Muslim (no. 47), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”

Aku katakan : Hadits yang disepakati shahihnya ini merupakan nash yang jelas bahwa sepantasnya seseorang tidak berbicara, kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yang nampak mashlahat-nya. Jika dia ragu-ragu tentang timbulnya mashlahat, maka dia tidak berbicara.

Dan Imam Asy-Syafi’i telah berkata, "Jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum dia berbiacra hendaklah berpikir, jika nampak jelas mashlahat-nya dia berbicara, dan jika dia ragu-ragu, maka dia tidak berbicara sampai jelas mashlahat-nya.

Wallahu a'lam bish-shawwab

Sumber : Kitab Al-Adzkaar, 2/713-714, karya Imam An-Nawawi, Penerbit Dar Ibni Hazm, cet. 2, th. 1425 H / 2004 M

Wakaf Berkelompok

Pertanyaan : Apakah boleh Wakaf berkelompok?

Jawaban : Wakaf tidak harus dilakukan oleh perorangan, tetapi boleh dengan berjama’ah.

Misalnya, iuran membeli tanah untuk membangun masjid, pendidikan Islam dan lainnya.

Adapun dalilnya, Sabda Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam kepada pemilik kebun yang merupakan milik orang banyak :

يَا بَنِي النَّجَّارِ ثَامِنُونِي بِحَائِطِكُمْ هَذَا قَالُوا لَا وَاللَّهِ لَا نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلَّا إِلَى اللَّهِ

Wahai, Bani Najjar! Juallah kebunmu ini kepadaku!” Lalu Bani Najjar berkata, ”Tidak kujual. Demi Allah, tidaklah kami jual tanah ini, kecuali untuk Allah.  [ HR Bukhari, kitab Al Washaya, no. 2564 ].

Sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”Wahai, Bani Najjar!” menunjukkan bahwa wakaf dapat dilakukan lebih dari satu orang.

Wallahu a'lam bish-shawwab.

Dijawab oleh Tim Syar'i Rumah Qur'an al-Kautsar

DUNIA TEMPAT MENCARI AKHIRAT

Utsman Bin Affan radhiyallau 'anhu berkata pada salah satu khutbah yang beliau sampaikan di akhir hayatnya : 

إن الله إنما أعطاكم الدنيا لتطلبوا بها الآخرة ، ولم يعطكموها لتركنوا إليها ، إن الدنيا تفنى ، وإن الآخرة تبقى ، لا تبطرنكم الفانية ، ولا تشغلنكم عن الباقية

"Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada kalian itu agar kalian mencari akhirat dengannya, dan tidaklah Allah memberikannya kepada kalian agar kalian condong kepadanya. Sesungguhnya dunia itu akan binasa sementara akhirat itu abadi. Janganlah dunia yang fana ini menjadikan kalian sombong, dan jangan pula menyibukkan kalian dari yang abadi (akhirat).

وآثروا ما يبقى على ما يفنى ؛ فإن الدنيا منقطعة ، وإن المصير إلى الله

Dan pilihlah oleh kalian yang abadi daripada yang fana! Karena dunia ini akan putus dan sesungguhnya tempat kembalinya adalah kepada Allah.

اتقو الله ,فإن تقواه جنة من بأسه ، ووسيلة عنده ، واحذروا من الله الغير ، والزموا جماعتكم لا تصيروا أحزابا

Bertakwalah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya takwa kepada-Nya itu adalah benteng pelindung dari siksaan-Nya, dan perantara di sisi-Nya. Dan hati-hatilah kalian dari sifat cemburu dari Allah (Jangan bermaksiat kepada-Nya). Berpeganglah kalian dengan jamaah kalian (pemerintah), janganlah kalian menjadi berpartai-partai.

Allah berfirman :

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًاَ

Artinya : "Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara" (QS. Ali Imran 103)

Wallahu a'lam bish-shawwab.

Sumber : Al-Bidayah wa An-Nihayah 7/241

ANTARA HARAPAN DAN RASA TAKUT

Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda :

الجنّةُ أقربُ إلى أحدِكم من شِراكِ نعلِه، والنّار مثْلُ ذلك

"Surga lebih dekat kepada kalian dari tali sandalnya dan neraka juga seperti itu."  ( HR. Al-Bukhari no.6488 )

Faedah Hadits :

- Pada hadits ini ada penjelasan bahwasanya keta'atan akan menyampaikan kepada surga, dan kemaksiatan akan menyampaikan kepada neraka.

- Bahwasanya keta'atan dan kemaksiatan bisa saja pada perkara-perkara yang mudah dilakukan.

- Sepantasanya bagi seseorang tidak membiarkan kebaikan yang sedikit melainkan ia kerjakan dan kelejekan yang kecil melainkan ia jauhi.

- Ibnul Jauzi berkata, "Makna hadits ini bahwasanya meraih surga merupakan perkara mudah, yaitu dengan memperbaiki niat dan melakukan keta'atan. Demikian juga meraih neraka (juga perkara mudah) yaitu dengan mencocoki hawa nafsu dan melakukan kemaksiatan. Wallahu a'lam bish-shawwab.

Sumber : Fathul Baari 11/321

Perhatikan Kebutuhan Ruhanimu

Sesungguhnya diri kita terdiri dari jasad dan ruh. Tetapi banyak orang yang hanya berusaha memenuhi kebutuhan jasadnya, dan dia lupa akan kebutuhan ruhnya.

Padahal kondisi ruhnya-lah yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya, celaka atau bahagia, binasa atau selamat.

Siapa yang mengisi asupan ruhnya dengan iman dan amal sholeh, maka baginya kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat.

◼ Allah ta'ala berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." ( QS. An-Nahl: 97 )

Sebaliknya, siapa yang mengesampingkan kebutuhan ruhaninya, berpaling dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta tidak mengamalkannya, maka baginya kehidupan yang sempit.

◼ Allah ta'ala berfirman :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Artinya : "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit." ( QS. An-Nahl: 97 )

Wallahu a'lam bish-shawwab...

CARILAH MAJELIS TALAQQI Al QURAN

Jika kita ingin mendalami teori ilmu tajwid sangat mudah sekali karena saat ini sudah sangat banyak bertebaran dimana-mana kajian-kajian yang membahas teori  ilmu tajwid baik itu berupa Daurah, audio, video, group WA, chanel telegram dll.

Bahkan pengambilan ijazah sanad ilmiyyah berkaitan dengan ilmu tajwid pun seperti al jazariyyah tuhfatul athfal dll sangat mudah sekali didapat.

Antusiasme dalam mengikuti kajian-kajian ilmu tajwid sangat luar biasa. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peserta yang ikut gabung dalam kajian-kajian ilmu tajwid baik online maupun offline.

Akan tetapi yang masih sangat jarang sekali adalah majelis talaqqi Al Quran dimana majelis talaqqi ini adalah majelis yang wajib diikuti oleh kita pembelajar al quran.

Karena teori ilmu tajwid bahkan ijazah sanad ilmiyyah tajwid pun tidak serta merta bisa membuat bacaan kita menjadi mutqin.

Oleh karena itu bagi kita yang ingin fokus di bidang ilmu qiraat haruslah fokus duduk di majelis talaqqi.

Carilah guru yang benar-benar serius memperbaiki kesalahan-kesalahan tilawah antum dan membmbing antum.

Setelah antum bisa bermajelis maka bersabar dan istiqomahlah!

Mungkin sudah sering kita mengikuti daurah-daurah atau kajian ilmu tajwid, sudah juga masuk beberapa group online yang membahas ilmu tajwid atau memiliki puluhan koleksi buku-buku yang membahas tajwid dll.

Akan tetapi semua itu tidak akan memperbaiki  bacaan kita. Karena hanya guru talaqqi lah yang bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan tilawah kita.

Ijazah, sertifikat, kajian teori dll semuanya tidak bisa memperbaiki bacaan kita.

Maka carilah majelis talaqqi Al Quran!!!

Baarakallahu fiikum

Dikutip dari : Channel Kajian Tajwid Online.